Pengabdian Dosen INSTIKA kepada Masyarakat Seri 2

Ketua PC ISNU Sumenep: Pendidikan Politik Dulu, Baru Berharap Bebas Money Politic

Sumenep. Akhir-akhir ini, kita dihadapkan pada fenomena yang membuat hati miris, yaitu mulai menjamurnya money politic dalam even Pemilihan Umum (Pemilu). Suara rakyat yang tak lain adalah hak asasi ternyata dengan mudah diperdagangkan. Pada pemilu 2014 saat ini, fenomena ini bak jamur di musim hujan; tumbuh di mana-mana dengan suburnya, mudah dijumpai, dan terlihat secara terbuka. Tidak ada rasa malu atau sungkan memperjualbelikan hak mereka kepada para pembeli. Money politicmemang telah merusak sendi-sendi kemasyarakatan dan kebangsaan kita. Bahkan nilai-nilai luhur Agama Islam juga ikut ternoda. Semua kalangan mulai resah dengan money politic,tetapi bagaimana menyelesaikan problem akut bangsa ini? Dari mana kita akan memulainya?

Salah satu langkah penting yang mesti diambil adalah dengan menggalakkan pendidikan politik kepada masyarakat. Jika semua elemen, terutama partai politik, tidak pernah melakukan pendidikan politik kepada masyarakat, maka berkurang-hilangnya money politic dalam masyarakat kita akan jauh panggang dari api. Pemikiran cerdas ini disampaikan oleh Ketua Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Sumenep, KH. Mohammad Husnan, S. Ag, M. Pd. dalam “Dialog Interaktif dan Deklarasi Pemilu Anti Money Politic” pada Sabtu (5/04/2014) bertempat di Kantor PC NU Sumenep yang diselenggarakan oleh PC ISNU Sumenep.

Kiai Husnan yang juga Wakil Rektor 3 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) ini menyatakan bahwa “Pendidikan politik bagi masyarakat itu penting sekali. Berikan dulu pendidikan politik kepada mereka (masyarakat), baru kita wajar berharap money politic berkurang atau bahkan hilang dari masyarakat kita”. Kiai Husnan menambahkan bahwa semata-mata menyalahkan masyarakat bukanlah sikap yang bijaksana jika dalam waktu yang sama kita sendiri, terutama parpol, tidak pernah memberikan pendidikan politik apapun bagi mereka.

Pengasuh PP Annuqayah Kusuma Bangsa ini menambahkan “Istilah yang sering digunakan untuk menyebut Pemilu adalah ‘pesta demokrasi’. Kata ‘pesta’ identik dengan hura-hura, menghambur-hamburkan uang, berjudi dan sebagainya. Nyatanya betul, di kalangan kita ekspresi penyambutan terhadap pemilu dengan hura-hura, mandi uang, dan berjudi. ISNU sangat perihatin dengan hal ini”. Kegiatan yang secara rutin dilaksanakan memang terkadang menghilangkan ruhnya. Demikian pula dengan pemilu yang kini kehilangan spirit dan sakralitasnya.

“Pemilu 2014 ini hendaknya menjadi momentum bagi kita untuk mengembalikan nilai-nilai luhur pemilu. Kita jadikan juga untuk melawan permainan money politic dari politisi dan para penjudi di belakang politisi”, pungkas mantan aktivis PMII Jogja ini.* (ditulis oleh: Ach. Khatib, M. Pd.I).