Perjalanan ini bernama Rihlah Ilmiah Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Perjalanan mencari ilmu ke sebuah kota besar, kota metro, Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Berawal dari sebuah ide kecil, ide perjalanan ini kemudian ditangani dengan serius oleh panitia yang sengaja dibentuk jauh-jauh hari sebelum tanggal perjalanan ini diagendakan. Singkat cerita, dengan usaha yang tidak bisa dikatakan sederhana serta setelah melalui perjuangan yang tidak mudah, perjalanan inipun akhirnya terwujud pada tanggal 01 Maret 2015 meski sebelumnya mengalami deadline keberangkatan maju-mundur. Hal ini disebabkan Term of Reference(TOR) yang diajukan kepada rektor INSTIKA harus mengalami revisi beberapa kali.
Tepat pukul 02.15 dini hari tanggal 01 Maret 2015 bus Pariwisata Mandala yang kami sewa berangkat meninggalkan Annuqayah dengan membawa 25 rombongan mahasiswa Ushuluddin dan 3 orang pendamping, yaitu Bapak Jazuli Muthar, M._____, Ibu Fairuzah Tsabit, M.A, Bapak Mahmudi, M.Fil.I. Rihlah Ilmiah ini tidak didampingi pimpinan Fakultas Ushuluddin yang semula akan mendampingi tapi kemudian berhalangan untuk ikut karena beberapa kendala berbarengan dengan jadwal keberangkatan. Meski ada rasa kecewa yang diungkapkan mahasiswa, perjalanan tetap berjalan tenang dan teratur.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh maksimal selama 24 jam ini ternyata ditempuh selama 33 jam. Kemacetan dan kepadatan lalu lintas kota menjadi salah satu kendala utama dalam perjalanan ini. dengan berjalan tersendat-sendat bus mengantarkan kami ke sebuah rumah kontrakan dikawasan Pondok Hijau Jl. Legoso Raya Kelurahan Pisangan Ciputat Tangerang Jakarta Selatan, rumah yang akan menjadi tempat beristirahat kami selama di Jakarta. Tiba hari senin, 02 Maret 2015 pukul 11.00 WIB, peserta hanya memiliki waktu beristirahat sebentar sebelum tepat pada pukul 14.00 WIB bergegas kembali menuju tempat kunjungan pertama, yaitu Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta di kawasan tidak jauh dari penginapan. Di tempat ini kami disambut oleh beberapa pimpinan IIQ dan Dekan fakultas Ushuludin serta beberapa pengurus BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang sekaligus mahasiswa Ushuluddin. Acara berlangsung dengan santai dan penuh kekeluargaan. Setelah acara penyambutan dari kelompok hadrah, acara selanjutnya adalah sambutan-sambutan. Sambutan dari pihak IIQ disampaikan oleh Ibu Maria Ulfa selaku dekan Fakultas Ushuluddin.
“Mohon maaf atas acara yang dilaksanakan dengan cukup sederhana dan atas ketidakhadiran Rektor IIQ.” Begitu ungkap beliau dalam sambutannya.
Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa rektor IIQ mengirim salam pada pimpinan INSTIKA. Sedangkan dari pihak INSTIKA, sambutan disampaikan oleh Ibu Fairuzah selaku pendamping sekaligus alumni IIQ. Beliau menyampaikan rasa terimakasih atas sambutan hangat dari IIQ serta memohon kesediaan pimpinan IIQ untuk membagi ilmu tentang Alquran sebagai acuan dosen Alquran di INSTIKA. Setelah sambutan acara dilanjutkan dengan sharing bersama seputar program Tahfidz di IIQ secara umum dan program Fakultas Ushuluddin khususnya.
Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah metode hafalan Al-Quran yang diterapkan di tengah-tengah kesibukan dan beban tugas kuliah di kampus IIQ serta tentang materi Qiro’ah Sab’ah yang sudah jamak diajarkan di kampus IIQ. Yang menarik, salah satu pendamping meminta Ibu Maria Ulfa, salah petinggi IIQ yang sekaligus seorang Qari’ nasional, untuk membacakan beberapa ayat Al-Qur’an dengan suara merdunya. Sekitar pukul 16.30 WIB acara inipun ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dari pihak IIQ- INSTIKA serta tukar-menukar jurnal kampus. Tidak lupa foto bersama menjadi penutup paling pamungkas.
Perjalanan kedua, pada hari selasa, 03 Maret 2015 pada pukul 10.00 WIB dimulai dengan mengunjungi PSQ (Pusat Studi Al-Qur’an) Quraish Shihab, Jakarta. Rombongan kami langsung menuju ruang perpustakaan dan disambut oleh wakil direktur PSQ beserta beberapa staffnya. Di ruang perpustakaan yang sejuk itulah diskusi seputar Al-Qur’an dan tafsir serta sepak terjang dan visi misi PSQ mengalir penuh kehangatan dan antusiaame peserta. Meski tak sempat berdiskusi langsung dengan direktur utama PSQ, yaitu Bapak Quraish Shihab yang saat itu kebetulan berada di lokasi peserta sempat foto bersama di depan gedung PSQ. Saat itu beliau sedang mengerjakan penelitian di PSQ namun harus segera kembali ke kediamannya. Bahkan, setelah mengetahui bahwa rombongan kmai berasal dari Madura beliau menyapa kami dengan madura fashih. “Beres sampeyan?”, serentak kami tertawa dan menjawab, “Sae, pak!”
Setelah dari PSQ, kunjungan ini berlanjut ke Pondok Pesantren Darus Sunnah Ali Mushthafa Ya’qub. Di pesantren tersebut kami juga disambut dengan sangat baik oleh beberapa santri dan ustadz. Namun sayang, Ali Mushthafa Ya’qub selaku pengasuh pesantren tersebut tidak bisa hadir karena harus menemui tamu dari Polandia di masjid Istiqlal. Meski demikian, kami mendapat banyak pencerahan seputar hadis. Diskusi yang berjalan siang itu membahas seputar tekstualisasi dan kontekstualisasi hadis, takhrij hadis serta problematika dalam kajian hadis lainnya. Bahkan karena Bapak Ali Mushthafa Ya’qub berhalangan hadir, beliau menyampaikan salam dan membekali kami dengan beberapa buku karangannya seputar hadis dan dunia keislaman.
Di hari keempat, yaitu rabu, 04 Maret 2015 perjalanan dimulai dengan mengunjungi MONAS lalu dilanjutkan ke Taman Mini Indonesia untuk berkunjung ke Bayt Al-Qur’an yang lokasinya baru kami ketahui sama dengan kantor Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag. Di Bayt Al-Qur’an kami menyaksikan berbagai macam bentuk dan ukuran Al-Qur’an, serta berbagai macam Al-Qur’an yang berasal dari beberapa tahun silam. Koleksi Alquran di Bayt Alquran juga hampir meliputi seluruh jenis mushaf yang ada di dunia.
Di lantai 4 gedung tersebut, kami bertemu dengan ustadz Hakim dan dua orang rekannya yang sama-sama bekerja sebagai pentashihan Al-Qur’an Kemenag. Pentashihan ini berdasarkan Alquran standar Indonesia yang ditetapkan oleh Menteri Agama Indonesia. Dari diskusi yang berlangsung selama hampir 2 jam ini memberi kami banyak ilmu tentang khazanah keislaman dan Al-Qur’an sekaligus standar yang diberlakukan di Indonesia. Diskusi berlangsung lebih meriah dari lembaga sebelumnya. Terlihat dengan banyaknya mahasiswa dan dosen yang melontarkan pertanyaan.
Selain itu, Bapak Hakim juga menceritakan beberapa sejarah mushaf Alquran yang ada di Madura serta menunjukkan beberapa gambar mushaf yang berasal dari beberapa negara.
“Ukiran dalam mushaf Alquran Madura adalah paling sederhana dibandingkan dengan kota dan negara lain. Hal ini karena mushaf asli yang masih kuno sudah tidak ada. Padahal, dulu ukiran mufhafnya menjadi yang paling menarik.” Papar Bapak Hakim.
Tamana Mini merupakan daftar kunjungan kami yang terakhir, oleh karena itu selepas dari tempat tersebut kami langsung bergegas kembali ke bus untuk mengarungi perjalanan pulang, kembali ke Madura. Perjalanan pulang rupanya berbeda dengan keberangkatan. Pasalnya, waktu perjalanan mampu ditempuh lebih cepat dibanding ketika keberangkatan. Rombongan tiba di almamater tercinta INSTIKA sekitar pukul 21.00 WIB.