Guluk-Guluk - Instika – Instika mengadakan kuliah perdana bagi mahasiswa baru pada tanggal 3/9/2016 kemarin bertempat di Aula Besar As-Syarqawi Annuqayah. Narasumber yang diundang untuk mengisi kuliah tersebut adalah Hakim Agung/Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI, Dr. Artidjo Alkostar, SH, LLM., seorang Hakim Agung yang paling ditakuti koruptor akhir-akhir ini.
Artidjo Alkostar ditakuti koruptor karena, sebagai Hakim Agung, tidak segan-segan untuk memberi hukuman berat terhadap para koruptor. Sejak ia menjabat Hakim Agung/Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI, Mahkamah Agung terkenal “angker” di mata para koruptor.
Dalam pemaparannya di hadapan dosen Instika dan sekitar seribu mahasiswa baru, diakuinya bahwa korupsi di Indonesia sudah sistemik dan meluas. Dijelaskan bahwa korupsi sistemik adalah korupsi yang masuk sistem kenegaraan. Dicontohkan, orang tidak bisa menjadi pejabat jika tidak menyogok, proyek negara tidak berjalan jika orang-orang yang melaksanakannya tidak melakukan gratifikasi, dan lain sebagainya.
Korupsi yang sistemik tersebut, lanjutnya, menimbulkan kerugian besar bagi negara. Misalnya, ia mencotohkan, adanya kemiskinan struktural, terjadinya ketidakadilan secara struktural, ini bisa disebabkan oleh korupsi sistemik dalam negara. “Hal ini tidak boleh dibiarkan terus berlanjut, jika negara ingin tetap berwibawa,” tegasnya.
Artidjo Alkostar menjelaskan bahwa negara yang berwibawa adalah negara yang memiliki hukum dan melaksanakannya dengan sebaik mungkin. “Hukum adalah marwah negara”, terangnya.
Selanjutnya ia menyatakan bahwa ada empat tiang negara yang harus dijaga kekokohannya jika tidak ingin negara hancur. Pertama, negara harus mampu memberi makan warganya. Kedua, negara harus menyediakan transportasi dan kesehatan. Ketiga, negara harus menegakkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Dan keempat, negara harus menjaga kearifan lokal (local wisdom).
Ia mengharapkan pesantren menjadi roel model (teladan) dalam upaya penjegahan dan pemberantasan korupsi. Baginya, pesantren yang mengajarkan kejujuran, keikhlasan, keberanian, dan ketekunan memiliki sumbangsih besar untuk penjegahan dan pemberantasan korupsi.
Kuliah perdana kali ini bertema “Peran Pesantren dalam Membangun Masyarakat Madani dan Anti Korupsi.” Menurut Wakil Rektor III, KH. A. Wasil Hasyim, tema ini sengaja diangkat dengan narasumber yang berkompeten di dalamnya untuk memberi semangat mahasiswa Instika supaya terus memperjuangkan Indonesia bebas dari korupsi.
Rektor Instika, K.H. Abbadi Ishomuddin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Artidjo Alkostar merupakan tamu kehormatan. Kiai Abbadi mengharapkan, Artidjo dapat menjadi inspirasi bagi ribuan mahasiswanya yang diproyeksikan menjadi pemimpin masa depan, pemimpin yang menegakkan hukum dengan penuh keadilan. (Masykur Arif/LP2D)