Guluk-Guluk - Instika - Infrastruktur Instika terus digalakkan. Setelah pembangunan taman di halaman kampus putra lalu di depan BMSI (Bank Mini Syariah Instika) dan Galeria Instika, kini di depan kampus putri (Gedung Kiai Abdullah Sajjad) juga dibangun taman. Sejak seminggu yang lalu, taman di depan kampus putri ini, sudah bisa dinikmati para mahasiswi dan dosen.
Pembangunan taman ini, menurut Wakil Rektor II, H. Mohammad Hosnan, M.Pd., saat ditemui di kantornya (19/20/2016), berdasarkan atas inisiatif rektor. Rektor menginginkan kampus Instika menjadi tempat kuliah yang nyaman dan sejuk bagi mahasiswa/i serta dosen dan karyawannya.
Wakil Rektor yang mengurusi bagian keuangan, administrasi umum dan ketenagaan/SDM (KAUM SDM) ini juga mengatakan bahwa pembangunan taman ini tidak untuk foya-foya atau selebrasi, tetapi berlandaskan pada empat dasar filosofis, yaitu (1) program penghijauan, (2) paradigma pendidikan konstruktivisme, (3) EcoEduTourism, dan (4) Taman Siswa.
“Melalui keempat dasar ini, kami bergerak membangun Instika menjadi kampus yang nyaman, sejuk, asri, indah, dan menyenangkan, baik bagi seluruh civitas akademika Instika maupun bagi orang luar yang berkunjung ke Instika,” ungkapnya.
Supaya lebih dipahami, keempat dasar itu dijelaskannya secara panjang lebar. Pertama, program penghijauan. Menurutnya, katika isu pemanasan global ramai dibicarakan, banyak orang yang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dengan menanam banyak pohon dan mengganti pohon yang ditebang dengan menanam pohon baru.
“Inilah salah satu alasan yang mendorong kami membangun taman dengan menanam pohon, rumput, dan membuat air mancur agar kampus menjadi hijau, sejuk dipandang, mencegah terjadinya erosi, dan turut serta, bersama pemerintah, membangun lingkungan yang hijau,” paparnya.
Kedua, paradigma pendidikan konstruktivisme. Paradigma ini memiliki asumsi, salah satunya, bahwa lingkungan tempat belajar termasuk penopang utama dalam kegiatan belajar. Proses pendewasaan terbentuk melalui lingkungan.
Sehubungan dengan itu, lingkungan kondusif dan nyaman sangat tepat untuk dijadikan tempat pendewasaan peserta didik. Diharapkan dari lingkungan yang nyaman, pikiran-pikiran positif dan cemerlang mudah bersemai.
Ketiga, EcoEduTourism. Ini merupakan istilah yang relatif baru. Kepanjangannya adalah: Eco/ecology (lingkungan), Edu/education (pendidikan), tourism (kepariwisataan). Jika disederhanakan bermakna “wisata di lingkungan pendidikan”.
Menurut H. Hosnan, istilah ini pernah diungkapkan oleh Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Masykuri Bakri, M.Si., ketika ia menjelaskan pembangunan taman wisata di lingkungan kampusnya.
Dalam pengamatan alumni UIN Suka Yogyakarta ini, bahwa seluruh perguruan tinggi pada saat ini sedang mengembangkan konsep ecoedutourism di lingkungan kampusnya masing-masing.
Bahkan ada salah satu perguruan tinggi yang membangun kebun binatang di lingkungan kampusnya. Tujuannya agar masyarakat akrab dengan kampus dan kampus bisa menyediakan berbagai informasi penting berkenaan dengan kegiatan kampus.
Konsep ini sangat penting bagi perguruan tinggi.
“Sebelum membangun taman, kami sudah melakukan pengamatan dan perbandingan terhadap beberapa kampus di tanah air yang mengembangkan ecoedutourism ini. Orientasinya bagi Instika, masyarakat menjadi ingin melihat Instika lebih dekat, sehingga nantinya, selain mengetahui lingkungan Instika yang indah dan menyejukkan, masyarakat juga mengetahui kegiatan-kegiatan penting Instika,” tuturnya.
Dasar filosofis terakhir dalam pembangunan taman kampus Instika adalah Taman Siswa. Konsep yang diciptakan Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta ini mengandung makna filosofis sebagai tempat belajar yang indah, sejuk, dan menyenangkan.
“Sebagaimana tertera dalam kata “taman siswa” yang mengandung makna tempat yang indah dan menyenangkan bagi siswa/pembelajar,” lanjutnya.
Sehingga dari konsep ini diharapkan pembelajar bersemangat untuk datang ke sekolah dan tidak ingin cepat-cepat meninggalkan sekolah. Pasalnya, karena sekolah dibangun sebagai tempat yang nyaman, aman, indah, dan menyenangkan.
H. Hosnan mencontohkan seperti orang-orang yang mau berangkat ke tempat wisata. Sebagaimana jamak diketahui, orang-orang yang hendak berkunjung ke tempat wisata sangat bergairah, dan ketika sampai mereka tidak ingin buru-buru pulang. Ini tentu karena tempat wisata itu menyenangkan dan menyejukkan.
Demikian juga mahasiswa/i Instika, diharapkan dengan dibangunnya taman mahasiswa, mereka antusias untuk ke kampus dan tidak keburu pulang dari saking senangnya tinggal di lingkungan kampus yang indah dan nyaman. Sehingga, kasus mahasiswa/i keburu pulang karena kampusnya tidak nyaman, tidak indah, dan tidak menyenangkan tidak terjadi di Instika.
Selain itu, diharapkan mahasiswa/i dan dosen selesai melaksanakan kuliah, yang barangkali menjenuhkan dan menguras pikiran, dapat segera terobati atau fresh kembali ketika melihat lingkungan kampusnya indah, asri, dan menyejukkan.
Berkenaan dengan pembiayaan pembangunan taman, Wakil Rektor ini menyampaikan bahwa biaya pembangunan taman di halaman kampus itu lebih murah daripada dipaving.
“Seolah-olah jika dipaving itu lebih hemat biaya, padahal tidak! Meskipun terlihat lebih mewah, membangun taman di halaman kampus sebenarnya dananya lebih hemat ketimbang dipaving. Kami sudah melakukan kalkulasi yang cermat menganai hal ini,” tandasnya.
“Sehubungan dengan itulah, ke depan Instika akan terus membangun taman-taman mahasiswa/i demi mencapai tujuan empat dasar filosofis tersebut,” ungkapnya. (Masykur Arif/LP2D)
Fotografer: Sinawar, M.Pd.I.