BINCANG-BINCANG JEJAK RUMI DI TURKI

Guluk-Guluk - Instika - Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akhlak Tasawuf (AT) menggelar perbincangan santai tentang Jejak Rumi di Turki di Aula Mini Instika, Rabu (1/03/2017) siang, bersama Bernando J. Sujibto (akrab dipanggil BJ), yang sekitar seminggu lalu baru pulang dari Turki (selesai menempuh S-2).

“Saya memang menunggu kedatangan BJ dari Turki. Kalau dia pulang, akan saya “culik” untuk membicarakan hal-hal penting di Turki. Setelah saya hubungi, Alhamdulillah dia bersedia untuk mengobrolkan jejak Rumi di Turki,” ujar Dekan Fakultas Ushuluddin M. Mushthafa, M.A., dalam sambutannya.

Dekan Fakultas Ushuluddin juga menyampaikan pentingnya acara semacam itu untuk memperkaya pengetahuan mahasiswa/i di samping kuliah. “Duduk santai sambil mengobrolkan hal penting semacam ini dapat memperkaya pengetahuan kita. Acara semacam ini perlu untuk selalu dilaksanakan,” tegasnya.

Dimulai dari tanah kelahiran Rumi, BJ yang alumni Ponpes Annuqayah daerah Nirmala (sekarang Lubtara) memulai obrolannya tentang jejak Rumi. "Rumi lahir di Balkh (Afganistan)," katanya.

Rumi, seorang sufi dan penyair yang mendunia, memiliki nama panjang Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. Di Indonesia, ia akrab dipanggil Jalaluddin Rumi atau sering pula disebut dengan nama Rumi. “Di Turki, Rumi terkenal dengan sebutan Mevlana,” ujar BJ.

Adanya ancaman serangan tentara Mongol, membuat ayahnya, Bahauddin Walad, mengambil keputusan untuk membawa keluarganya mengungsi, termasuk Rumi kecil. Mereka meninggalkan Balkh dengan rute Baghdad, Damaskus, hingga sampailah di Konya, Turki. Di Turki, Rumi berjumpa dengan banyak ulama', salah satunya Syamsi Tabriz. “Pertemuan dengan Syamsi Tabriz telah mengubah hidup Rumi menjadi sangat spiritualis,” katanya.

BJ yang menempuh S-2 di Turki dengan beasiswa dari pemerintah Turki – dan kebetulan Universitas tempatnya kuliah berada di kota tempat Rumi menjalani hidup, yakni Konya–sangat merasakan atmosfir kebesaran Rumi yang hingga kini terus dilestarikan. Setiap tahun, mulai dari September hingga Desember, Rumi dirayakan kelahirannya di Konya.

Salah satu acara yang dihelat adalah Festival Musik Mistik Internasional, sebuah festival yang dirayakan untuk mengenang momentum Shab-i Aruz (malam pengantin bersama Tuhan) sebagai hari meninggalnya Rumi di Konya. “Dua kali Indonesia diundang untuk mementaskan keseniannya. Pertama, tahun 2010, Turki mengundang Gamelan Semara Ratih dari Jawa, dan tahun 2014, Tari Saman dari Aceh,” ungkapnya.

Jika datang ke Konya, simbol kebesaran Rumi yang akan menyambut pertama kali. “Jika Anda datang ke Konya, dari bandara, Anda akan menemukan simbol-simbol yang menggambarkan kebesaran Rumi terpancang berderet-deret di sepanjang jalan kota. Jika dari terminal dan naik bus, maka di dalam bus, Anda akan mendengarkan jeritan nay khas Rumi,” tambahnya.

Seluruh peserta yang terdiri dari mahasiswa/i AT terlihat antusias mengikuti obrolan. Ada mahasiswa bertanya tentang perjumpaan Rumi dengan Syamsi Tabriz yang mengharukan, psikologi Rumi, dan terakhir, BJ diminta untuk membacakan salah satu puisi Rumi. Bincang-bincang mengenai jejak Rumi berjalan dengan mengasyikkan.

Tidak terasa waktu menuntut obrolan untuk segera diakhiri padahal masih ada beberapa mahasiswa yang ingin bertanya tentang Rumi. BJ-pun mengakhiri obrolannya dengan membaca salah satu puisi Rumi memenuhi permintaan peserta. (Masykur Arif/LP2D)