HMJ IQT GELAR SEMINAR KITAB-KITAB TAFSIR BERSAMA KH. THAIFUR

Guluk-Guluk - Instika - Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (HMJ IQT) menggelar Seminar Kajian Kitab-Kitab Tafsir dan Dialog Interaktif bersama KH. Thaifur Ali Wafa, Sabtu (8/4/2017) di Aula Asysyarqawi Instika. “Suatu kebanggaan tersendiri bagi kami dapat mengadakan acara seminar tentang kitab tafsir bersama yang mulia KH. Thaifur, seorang ahli tafsir yang berasal dari Madura,” ungkap Ketua Panitia Hasan Abdillah.

Menurut Kajur IQT, Fathurrosyid, M.Th.I., rencananya seminar itu akan mengundang peserta dari HMJ IQT PTKI se Jawa Timur, tetapi karena berbagai kendala teknis, akhirnya peserta yang diundang hanya se Madura. “Meski demikian, saya mengapresiasi semangat HMJ IQT yang telah berhasil melaksanakan seminar ini dengan baik,” tambahnya.

Dekan Fakultas Ushuluddin, M. Mushthafa, MA., dalam sambutannya menyampaikan terimakasih kepada KH. Thaifur yang telah bersedia hadir memenuhi undangan HMJ IQT untuk mengisi seminar tentangt kitab tafsir. Dekan Ushuluddin juga menyampaikan keinginannya menjaring para ulama’ (intelektual Islam) yang tidak memiliki gelar akademik formal sehingga tidak bisa mengajar di kampus untuk ikut berpartisipasi atau berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan para mahasiswa yang belajar di kampus.

“Acara semacam ini dapat menjadi tempat untuk belajar dengan intelektual Islam yang sangat produktif di luar formalitas kampus,” terangnya. Sehubungan dengan itu, M. Mushthafa juga menyampaikan keinginannya bersama mahasiswa Fakultas Ushuluddin untuk sowan ke kediaman KH. Thaifur dalam rangka belajar langsung mengenai tafsir dan tasawuf.

Seminar itu dimoderatori oleh Masykur Arif, M.Hum., salah satu dosen Fakultas Ushuluddin Instika. Ia menyampaikan bahwa KH. Thaifur Ali Wafa merupakan mufassir Nusantara yang mengarang kitab tafsir berjudul Firdaus an-Na’im. “Sejauh yang saya ketahui, KH. Thaifur, merupakan orang Madura pertama yang mengarang kitab tafsir lengkap 30 juz. Patut kiranya jika kita banyak belajar kepada beliau tentang tafsir,” katanya.

KH. Thaifur memulai pemaparannya dengan menjelaskan tentang pentingnya mencari ilmu. Menurutnya, mencari ilmu adalah tujuan inti seorang pelajar. Mufassir yang tinggal di Kecamatan Ambunten, Sumenep ini mengingatkan bahwa dalam mencari ilmu kita dituntut untuk bersabar dan demi mendapatkan kemuliaan yang hakiki. Kemuliaan yang hakiki adalah mendapat ridha dari Allah Swt.

“Mencari ilmu adalah salah satu cara bagaimana menghamba yang benar kepada Allah Swt.,” ungkapnya. Niat yang tepat, ikhlas, dan sabar adalah kunci kesuksesan bagi para pencari ilmu. Orang yang memiliki ilmu akan dimuliakan oleh manusia bahkan Malaikat pun akan memuliakannya.

Dalam menulis Thafsir, KH. thaifur mendapat semangat dari hadis Nabi yang mengabarkan bahwa sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya. Di hadis lain dijelaskan, barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali.

“Inilah salah satu yang memberi semangat pada saya untuk menulis tafsir,” jelasnya.

Metode yang diterapkan dalam menulis tafsir tidak jauh beda dengan para mufassir pendahulunya. Kisah-kisah israiliyat tidak dijadikan rujukan dalam tafsirnya. “Kisa-kisah israiliyat saya lihat terlalu dhaif untuk saya masukkan dalam tafsir saya,” katanya.

KH. Thaifur mengabarkan bahwa Firdaus an-Na’im akan dicetak di Beirut. “Jika nanti sudah terbit, sebanyak 1000 eks akan dikirimkan ke Indonesia,” ungkapnya.

Seminar tentang tafsir yang dimulai sekitar pukul 14:00 itu, selesai pukul 16:00. (LP2D)