SMAN 1 Batuan Tanamkan Nilai-Nilai Spiritual

BATUAN-Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Batuan merupakan satu-satunya sekolah negeri yang terletak di Desa Batuan, tepatnya di Dusun Sageren. Sekolah ini memiliki gedung yang cukup mentereng, dengan mengelola dua jurusan yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Selain adanya Perpustakaan, Laboratorium dan Kantin, sekolah ini juga dilengkapi dengan mushalla sebagai tempat shalat bersama dengan segenap tenaga kependidikan di SMA Negeri I Batuan.

Gedung sekolah yang memiliki delapan belas ruang belajar serta halaman yang luas, mampu menampung siswa dengan jumlah sekitar lima ratus enam puluh (560) siswa yang datang dari berbagai penjuru Kecamatan Batuan, bahkan dari luar Kecamatan.

Mohammad Adi, guru pengampu materi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ini mengatakan, SMAN I Batuan sangat menekankan kedisiplinan terhadap para siswa agar bisa menggunakan waktu sebaik-baiknya. Pak Adi, panggilan akrabnya, yang kebetulan saat itu sedang bertugas menunggu siswa yang terlambat di depan gerbang menuju parkiran, menginterogasi siswa yang terlambat layaknya polisi lalu lintas. Siswa yang terlambat ini mendapat sanksi berupa cubitan di perut dan berdiri di depan gerbang sebelum akhirnya disuruh masuk ke ruang kelas masing-masing.

“Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, pihak sekolah menerapkan ngaji Yasin bersama dengan tujuan agar mereka terbiasa membaca Al-Qur’an dan menumbuhkan pendidikan spiritual kepada para siswanya. Karena pendidikan yang hanya  bernuansa umum tanpa diselingi dengan pendidikan agama, hanya akan menumbuhkan kecerdasan akal, sehingga hal itu dikhawatirkan hanya membuat siswa pandai bersilat lidah” ungkap Khairul Anam, guru olahraga yang merupakan salah satu alumni PP. Annuqayah.

Moh. Romli, sebagai alumni angkatan pertama di sekolah tersebut menyatakan, “Meskipun tidak semua siswanya beragama Islam, SMAN 1 Batuan merupakan sekolah negeri yang layak menjadi cerminan bagi sekolah-sekolah yang lain. Hal ini dibuktikan dengan diterapkannya peraturan yang memberikan toleransi terhadap siswa yang beragama non-muslim untuk tidak mengikuti materi keagamaan. Dalam artian, siswa yang beragama non-muslim boleh mengikuti atau tidak materi agama yang sudah menjadi kurikulum di sekolah ini” imbuhnya.

Selanjutnya Moh. Fahmi, guru pengampu materi Bahasa Arab menambahkan, “Saya banyak mengenal alumni Annuqayah, dan saya mengagumi mereka. Dari sekian banyak yang saya kenal, rata-rata mereka memiliki jabatan penting di instansi tertentu, atau bahkan jabatan di pemerintahan. Semoga kalian semua nantinya akan menjadi orang yang sukses juga seperti mereka.” Kami pun mengamini doa beliau sekaligus mengakhiri perbincangan kami karena harus kembali ke Posko KKN (Taufiq/ Posko XIV Batuan).