HALAL BIHALAL KELUARGA BESAR INSTIKA

Guluk-Guluk - Instika - Pimpinan Instika menggelar Halal Bihalal bersama dosen dan karyawan, Sabtu (12/8/2017) di Aula Mini Instika dengan tema ‘Merajut Profesionalisme untuk Optimalisasi Khidmah’. Acara itu dihadiri masyaikh Annuqayah, diantaranya KH. Abdul Muqsith Idris, Drs. KH. A. Hanif Hasan, dan K.H. Muhammad Sholahuddin A. Warits, M.Hum.

Rektor Drs. H. Abbadi Ishomuddin, MA., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kata lain dari halal bihalal adalah silaturahim yang bertujuan mempererat kebersamaan dalam mengabdi di Instika. Setiap mengadakan halal bihalal, lanjutnya, Instika mengundang masyaikh Annuqayah.

“Setiap tahun kami mengundang masyaikh Annuqayah untuk memberikan bimbingan, arahan, pencerahan, tausiah kepada kami yang mengabdi di Instika,” katanya.

Dalam menyelenggarakan perkuliahan, Rektor mengharapkan para dosen dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan sesuai jadwal yang sudah ditentukan. “Jangan sampai terjadi dosen mengambil ruang dan waktu yang diperuntukkan dosen yang lain,” terangnya. 

Para dosen juga diharapkan sebelum melaksanakan perkuliahan hendaknya menyiapkan silabi dan SAP (Satuan Acara Perkuliahan). Di samping itu, dosen diharapkan tidak segan untuk menegur dan menasihati mahasiswa yang melanggar aturan atau etika kampus, seperti dalam hal berpakaian, rambut, mengaktifkan handpone di kelas, dan lain sebagainya.

Selain itu, kepada pihak yang berwenang, Rektor mengharapkan program wali mahasiswa dapat aktif dengan maksimal, “Kami mohon dengan sangat agar program “wali” bisa berjalan,” ungkapnya.

Rektor menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada satuan kerja Instika yang telah menjalankan tugasnya dengan susah payah sehingga selesai tepat waktu. “Tentu tidak akan selesai tugas itu jika tidak ada semangat pengabdian,” ujarnya.

Terakhir, K. Abbadi menyampaikan permohonan maaf jika pelaksanaan halal bihalal tahun ini kurang memuaskan. “Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan,” katanya.

Sementara itu, KH. Abdul Muqsith Idris dalam tausiahnya menyampaikan bahwa kita diciptakan untuk mengabdi kepada Allah. Atau, tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk menghamba kepada-Nya. 

“Dalam mengabdi jangan bermalas-malasan (Red. Madura: tè-mèttè),” terangnya.

Para dosen diperintahkan untuk mempelajari cara hidup (tradisi) yang diterapkan pesantren, khususnya cara hidup yang dilakukan oleh para masyaikh. Para masyaikh sangat mengutamakan masalah akhlak dalam mendidik dan membimbing santri.

“Hal-hal yang dilakukan di pesantren oleh kiai dipelajari dan ikuti kemudian disampaikan kepada para santri (mahasiswa),” ungkapnya.

K. Muqsith mencontohkan ketika lewat di pesantren hendaknya pakai akhlak.

Dalam mendidik santri, K. Muqsith memberikan tips, yakni jangan terlalu longgar dan jangan terlalu ketat. Terlalu longgar bisa membuat anak didik liar, terlalu ketat juga tidak bagus. “Khairul umur, awsathuha,” jelasnya.

Sebelum acara halal bihalal diakhiri, Wakil Rektor II H. Mohammad Hosnan, M.Pd., mengumumkan bahwa distribusi keuangan Instika akan dipusatkan di BMSI (Bank Mini Syariah Instika). Jika sebelumnya distribusi keungan Instika dibagi dua, yakni di Rektorat dan BMSI, maka mulai 20 Agustus 2017 mendatang semuanya berpusat di BMSI. “Untuk belanja kebutuhan satker dan gaji dosen dan karyawan semuanya akan dipusatkan di BMSI dan semuanya akan dibuatkan rekening,” terangnya.

 Acara halal bihalal diakhiri dengan makan bersama. (Masykur Arif/LP2D)