Keunggulan Bisnis Bunga Melati

LENTENG- Mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Riset Partisipatif INSTIKA 2017 Posko XI Desa Daramista, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, tengah berbondong-bondong mendatangi rumah Ibu Mely yang terletak di Dusun Bandungan Desa Daramista. Kedatangan mereka tidak lain hanyalah untuk mewawancarai dan mengobservasi potensi unggul yang ada di dusun Bandungan. Salah satu potensi unggul dan menarik yang ada di Dusun Bandungan adalah pembisnis bunga melati.

Dari sini Ibu Mely selaku pembisnis bunga melati terbesar di Dusun Bandungan memperkenalkan para pengrajut dan pemulung bunga melati miliknya kepada sahabat KKN INSTIKA 2017. Tidak hanya itu, tapi Ibu yang masih baru berumur 27 tahun itu, juga menunjukkan lokasi tanaman melatinya yang memang tidak jauh dari kediaman.

Lokasi penanaman bunga melati di lahan Ibu yang masih lulusan MA tersebut merupakan lokasi strategis dan tepat sekali guna menghasilkan melati yang cukup baik.  Para pemulung bunga melati-pun juga cukup banyak. Ada 12 pemulung aktif dan 4 pemulung non aktif. 12 pemulung aktif ini, setiap harinya selalu bekerja. Sedangkan 4 pemulung non-aktif, setiap harinya tidak netap bekerja. Para pemulung ditugaskan untuk memetik (memulung) bunga melati sebelum bunga melati kelihatan mekar. Bunga melati itu membutuhkan 3-5 hari untuk mekar dari mulai tumbuhnya. Sehingga pemulung-pun harus benar-benar paham dan selalu siap setiap hari untuk memetik bunga melati.

Suhartatik sebagai pemulung dan pengrajut bunga melati menjadi sangat bangga dan terbantu atas kedatangan utusan KKN dari INSTIKA ini. Beliau menuturkan bahwa alumni dari INSTIKA memang benar-benar berguna bagi Nusa dan Bangsa. Sekali lagi Ibu yang masih setengah baya itu berujar bahwa anak didik Annuqayah harus serius belajar dan ta’at terhadap aturan yang telah berlaku di kampus. Dengan motivasi tersebut, para peserta KKN menjadi semangat untuk terus mengabdi kepada masyarakat. Selain itu, salah satu yang membuat Ibu asli Bandungan ini bangga kepada anak-anak posko XI tidak lain dikarenakan mereka ikut berpartisipasi dalam memilah-milahkan bunga melati yang berukuran kecil, sedang, dan besar.

Salah satu yang paling unik juga disampaikan oleh Ibu Dahlia bahwa menjadi seorang perajut bunga melati itu juga membutuhkan kekreatifan dan kecermatan si perajut. Beliau juga bertutur bahwa tanpa kekreatifan dan kecermatan, maka rajutan tidak akan semenarik bunga yang sedang dipakai sepasang kemanten di perlaminan. Dalam hal ini, Amirul Muttaqin sebagai ketua Posko XI menanyakan tentang bagaimana membuat si perajut kreatif. Disini jawaban Ibu Dahlia simpel, si perajut hanya membutuhkan keseringan dalam merajut bunga melati. Namun keseringan merajut bunga melati itu masih saja kurang untuk mengembangkan kekreatifan si perajut jika mereka tidak memiliki bentuk-bentuk rajutan yang banyak.

Disamping itu, Badrul Subakih selaku Koordinator bidang Ekonomi dan Pemberdayaan masyarakat di Posko XI, juga bertanya seputar cara mengatasi masalah tidak adanya macam-macam bentuk rajutan. Tapi untuk saat ini masih belum mereka temukan solusi yang tepat untuk hal itu. Oleh karenanya, Amirul Muttaqin dan sahabat-sahabat KKN Posko XI lainnya akan menjadikan masalah itu sebagai akar masalah di bidang perekonomian. (Oleh: Amirul Muttaqin/ Posko XI)