Guluk-Guluk - Instika - Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Fakultas Ushuluddin Instika mengadakan Seminar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dengan tema ‘Peta dan Konstruksi Logis Penelitian al-Qur’an dan Tafsir’ di Aula Mini Instika, Rabu (27/9/2017) pagi.
Penyaji dalam seminar tersebut Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. Ketua Jurusan IAT (Ilmu al-Qur’an dan Tafsir) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pesertanya seluruh mahasiswa dan mahasiswi IQT Instika dan umum.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor I Dr. Ach. Maimun, M.Ag., Kajur dan Sekjur IQT, dan beberapa dosen Ushuluddin.
WR I Dr. Ach. Maimun dalam sambutannya menyampaikan banyak terimakasih kepada penyaji yang telah sudi hadir bersama ibu ke Instika di tengah padatnya jadwal kegiatannya. WR I juga menyampaikan bahwa meskipun jarang berjumpa tetapi dirinya mengikuti pemikirannya melalui buku yang ditulisnya.
“Saya juga membaca buku Pak Mustaqim dan bahkan saya ikut menjualkannya,” selorohnya.
Dengan menghadirkan Dr. Mustaqim, katanya, mahasiswa Instika diharapkan tidak hanya mengetahui pemikirannya melalui bukunya, tetapi juga dapat berjumpa langsung dengan pengarangnya sehingga dapat menyimak langsung pemikirannya.
WR I mengharapkan acara tersebut dapat membangkitkan tradisi keilmuan pesantren. Dia menilai , pada umumnya tradisi akademik pesantren berjalan lamban disebabkan para akademisinya tidak memiliki basis metodologi penelitian yang kuat.
“Kita sebenarnya mempunyai banyak hal untuk diteliti. Tetapi karena kurangnya metode sehingga tidak terungkap. Nah, melalui seminar ini diharapkan dapat membangkitkan tradisi penelitian di pesantren,” ungkapnya.
Kajur IQT Fathurrosyid, M.Th.I., yang memoderatori seminar tersebut menyampaikan bahwa riset adalah kebutuhan primer. Prodi IQT mengadakan seminar metodologi penelitian al-Qur’an dan Tafsir, katanya, adalah bertujuan membangun semangat meneliti mahasiswa. Di samping itu, ingin menghapus kesalahan-kesalahan dalam meneliti dan menafsirkan al-Qur’an.
Menurutnya, ada beberapa kesalahan berpikir mahasiswa dalam meneliti al-Qur’an, di antaranya bahwa al-Qur’an sudah selesai, jadi tidak perlu diteliti kembali, dan kebanyakan, mahasiswa dalam meneliti al-Qur’an hanya menggunakan satu metode, padahal banyak metode yang dapat digunakan untuk meneliti al-Qur’an.
“Karena itulah, saya selain memperkenalkan buku Pak Mustaqim yang mengakaji tentang berbagai metode dalam meneliti al-Qur’an juga berusaha untuk menghadirkan beliau ke Instika. Alhamdulillah rencana itu sekarang berhasil,” ungkapnya.
Dengan menghadirkan Dr. Mustaqim, Kajur IQT mengaharapakan mahasiswa dan mahasiswi IQT tertarik untuk mengkaji al-Qur’an. Sehingga pertanyaan mengapa al-Qur’an itu menarik untuk diteliti, dapat terjawab pada saat ini.
Dr. Mustaqim dalam pemaparannya banyak memotivasi peserta untuk terus belajar dan meneliti. Orang yang berhenti belajar, katanya, adalah orang yang sebenarnya mendeklarasikan kebodohannya.
Menurutnya, al-Qur’an itu abadi, tetapi penyajiannya selalu kontekstual. “Bagaimana al-Qur’an bisa selalu kontekstual? Di sinilah tugas peneliti,” tegasnya.
Dari hasil penelitian terhadap al-Qur’an, katanya, diharapkan tidak hanya umat Islam yang bisa memahami isi al-Qur’an, non muslimpun bisa ikut memahaminya.
Penelitian atau riset tentunya dilakukan oleh akademisi. Di sini, Dr. Mustaqim mendefinisikan riset sebagai kerja akademik yang sistemik untuk membangun struktur pengetahuan dalam rangka mencapai tujuan dari riset itu sendiri.
Menurut Dr. Mustaqim, terdapat struktur riset yang harus dipahami oleh peneliti, di antaranya: (1) latar belakang masalah atau alasan memilih riset, (2) problem akademik atau rumusan masalah, (3) metode penelitian, (4) temuan riset.
Khusus poin ketiga, Dr. Mustaqim menjelaskan bahwa terdapat banyak metode dalam meneliti al-Qur’an atau al-Qur’an tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan. Karena itu, katanya, al-Qur’an bisa dijelaskan dengan pendekatan semiotik, semantik, pragmatik, hermeneutik, dan pendekatan-pendekatan lainnya.
Adapun wilayah kajian al-Qur’an juga cukup banyak. Dr. Mustaqim menjelaskan beberapa wilayah baru yang dapat diteliti kaitanya dengan al-Qur’an, diantaranya: resepsi hermenutis, resepsi estetis, dan resepsi sosial budaya (living Qur’an).
“Orang sering bertanya apa manfaatnya masuk jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Manfaatnya tidak sejelas prodi-prodi sains dan teknologi. Prodi sains dalam risetnya bisa menghasilkan sesuatu yang manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat, seperti jembatan. Lalu jurusan ilmu al-Quran menghasilkan apa?” katanya.
Dalam masalah tersebut Dr. Mustaqim memberikan penjelasan bahwa jurusan IQT akan menghasilkan orang-orang yang mampu membangun peradaban. Adanya kekerasan atas nama agama, saling kafir-mengkafirkan, dan klaim kebenaran (truth claim) yang banyak terjadi di masyarakat, bisa jadi disebabkan oleh kesalahan mereka dalam memahami al-Qur’an.
“Itulah pentingnya jurusan ilmu al-Qur’an. Mahasiswa ilmu al-Qur’an inilah yang bertugas untuk memberikan pemahaman yang benar tentang al-Qur’an melalui hasil-hasil penelitiannya,” terangnya.
Karena itu, tambahnya, manfaat jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir hadis akan sangat terasa dalam kehidupan masyarakat. “Mereka memang tidak membangun jembatan, sebagaimana mahasiswa prodi sains, tetapi mereka membangun jembatan peradaban yang lebih baik yang sesuai dengan nilai-nilai al-Qur’an.” jelasnya.
Acara seminar yang dimulai sekitar jam 09:00 WIB tersebut berakhir sekitar jam 11:00 WIB setelah sesi tanya jawab. (Masykur Arif/LP2D)