MAHASISWA INSTIKA JADI PEMUDA PELOPOR SUMENEP 2017, INI PERJUANGANNYA

Sumenep - Instika - Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumenep, menobatkan Fitria Nurul Imamah, mahasiswa semester V (lima) Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES) Fakultas Syariah Instika sebagai Pemuda Pelopor Kabupaten Sumenep 2017 bidang Pengembangan Sumber Daya Alam (SDA) di Auditorium Hotel Utami Sumekar (15/11/2017).

Berdasarkan penuturan Fitria Nurul Imamah, terdapat 50 peserta dari Kabupaten Sumenep yang masuk nominasi Pemuda Pelopor Kabupaten Sumenep 2017. “Alhamdulilah, dari 50 peserta se Kabupaten Sumenep, saya lolos,” katanya kepada LP2D Instika di Kantor Kampus Putri Instika, Selasa (21/11/2017).

Pemuda yang berasal dari Bilapora Barat, Ganding, Sumenep ini menyebutkan kriteria untuk masuk sebagai Pemuda Pelopor sebagaimana yang disampaikan Disparbudpora Sumenep. Kriterianya adalah harus mandiri, kreatif, inovatif, berdaya saing, memiliki jiwa kepeloporan, kepemimpinan, kewirausahaan, dan bertanggung jawab sesuai dengan cita-cita Republik Indonesia.

Sementara itu, dari segi usia yang ditetapkan sebagai pemuda dan yang boleh mengikuti ajang itu adalah usia 19-30 tahun. “Pelopor itu, orang yang mempelopori sesuatu yang baru di masyarakat tanpa adanya bantuan atau dana pemerintah, yang memberi manfaat untuk masyarakat sekitar. Begitu, kata orang dinas,” tambahnya.

Pemuda dari pasangan suami-istri Idris dan Horrimah ini menceritakan perjuangannya sehingga dinobatkan sebagai Pelopor Pemuda Sumenep 2017. Berawal dari keprihatinan dirinya terhadap kondisi lingkungannya yang tidak terkelola dengan baik, seperti pembiaran terhadap sampah dan pemanfaatan terhadap potensi alam yang sangat minim. Sekitar awal tahun 2016, ia mulai mewujudkan ide-ide kreatifnya.

“Saya  membuat suatu kreativitas yang berasal dari alam yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Mula-mula saya melakukan sendiri, dan mencoba memasarkan hasil dari kreativitas tersebut. Respon pasar sangat baik dan permintaan meningkat sehingga saya kemudian memanfaatkan para tetangga untuk ikut nimbrung sekalian membantu sedikit kebutuhan finansial mereka. Alhamdulilah, satu tahun dari kegiatan saya, kemudian banyak yang mengapresiasi, mulai dari kepala desa sampai pemerhati sosial,” ujarnya.

Sampai saat ini, sudah terdapat 20 orang lebih pengrajin dari ibu-ibu rumah tangga yang bekerja bersamanya dalam mengembangkan SDA. Bidang SDA garapan pemuda yang lahir tanggal 22 September 1997 ini adalah pupuk dari bahan alam non biotik dan biotik (hewan dan tumbuhan). Pupuk organik yang diproduksinya terbuat dari akar bambu dan air kedelai. Manfaat dari pupuk ini adalah, selain menambah kesuburan tanah 85%, juga tidak membawa efek samping terhadap kesuburan tanah pasca panen, sebagaimana sering terjadi pada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia.

Dari tumbuhan, ia memanfaatkan pelepah pohon pisang dan sejenis daun pandan. Pelepah pohon pisang dijadikannya sebagai tas (banana bag) dan keranjang. Sementara, daun pandan, ia olah menjadi dompet (clutch) dan lain-lain sesuai kebutuhan pasar.

Pupuk yang diproduksinya, ia uji laboratorium di Dinas Pertanian Sumenep. Hasil tes laboratorium sangat sesuai dengan harapan. Ia pun meneruskan produksi pupuk organiknya yang kemudian dipasarkan ke para petani melalui Dinas Pertanian Sumenep.

Sementara, hasil kerajinan tangan dari bahan alam, ia pasarkan secara online. Dalam menjual secara online, ia menggunakan sistem grosir, tidak menerima eceran. Pasalnya, ia ingin menjual dengan harga murah. “Sebab kalau diecer, harganya bisa sangat mahal,” ungkapnya.

Melalui sistem online, ia dapat memasarkan hasil kreativitasnya secara lebih luas. “Alhamdulillah, pelanggan hasil kerajinan tangan saya sekarang ada yang dari Bali, Kalimantan, Jakarta, dan lain-lain. Bahkan, ada pemesan dari luar negeri.” kata Fitria yang pernah menggadaikan dua laptop temannya untuk modal awal usahanya ini.

Menurutnya, setiap daerah memiliki potensi alam yang berbeda-beda. Dalam melihat potensi alam, ia sering melakukan observasi ke pelosok-pelosok desa dan menemui kades untuk menanyakan potensi alam yang ada tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Dari sinilah, muncullah ide kreatif untuk memanfaatkan potensi alam yang terbaikan tersebut.

“Seperti contoh, di daerah Karduluk beberapa nelayan hanya memanfaatkan ikan yang kecil-kecil hasil tangkapan sebagai pakan ternak. Kemudian, saya dan tim mengolah menjadi roti. Kenapa roti? Karena kalau kerupuk itu sudah biasa dan lumrah, sedangkan roti tidak biasa. Di sana nilai plusnya. Yang mula-mula hanya pakan ternak berubah menjadi roti,” ujarnya.

Awal tahun 2017, kepala desanya beserta pemerhati sosial dari pemerintah Sumenep berkunjung ke rumahnya. Ia ditawari untuk ikut ajang pemilihan Pemuda Pelopor yang diselenggarakan setiap tahun oleh pemerintah, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai pusat. Untuk menambah pengalaman dan ilmu, ia pun menerima tawaran tersebut.

“Pemilihan tersebut melalui tiga kali seleksi, yang pertama seleksi tingkat kecamatan, kemudian seleksi tingkat kabupaten, dan seleksi babak penentuan juara. Bidang-bidang yang dikompetisikan adalah bidang pangan, SDA, pendidikan, TIK, dan Pariwisata. Alhamdulillah saya juara. Kemudian, saya mewakili Sumenep ke tingkat Jawa Timur,” ujarnya.

Akhirnya, Fitria, sebagai Pelopor Pemuda Sumenep 2017, yang memiliki motto ‘Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok’ memberikan pesan semangat kepada para pemuda untuk tidak menyia-nyiakan potensi alam yang ada di sekitar mereka.

“Pemuda adalah sumber daya manusia yang tak bisa dipisahkan dari elemen sumber daya alam. Maka, pemuda wajib melestarikan alam dan mengembangkan masyarakatnya,” katanya. (Masykur Arif/LP2D)