KEMAS MINYAK GORENG TRADISIONAL UNTUK PASAR GLOBAL

Dungkek – INSTIKA - Rabu (1/8/2018), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Riset partisipatif Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) 2018 Posko XLV desa Bungin-bungin, kecamatan Dungkek kabupaten Sumenep melakukan pengemasan produk masyarakat desa Bungin-bungin berupa minyak goreng tradisional yang dikemas secara modern dan kemudian diberi nama VCO (Virgin coconut oil).

Pengemasan produk lokal minyak goreng tradisional yang berbahan dasar kelapa tua itu, dilakukan di Balai Desa Bungin-bungin. Pesertanya terdiri dari ibu-ibu rumah tangga desa Bungin-bungin.

Zahratun Ni’am, Ketua Posko XLV, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi ibu-ibu rumah tangga dalam memasarkan produk lokal untuk pasar global. Minyak kelapa murni (VCO) yang  selama ini diproduksi dan dipasarkan di pasar tradisional, katanya, apabila dikemas dengan baik dan dengan teknik yang lebih modern, pasti akan diperhitungkan di pasar nasional bahkan internasional. Karena saat ini, lanjutnya, VCO ini sedang menjadi trend di negara-negara Barat, seperti Eropa, banyak diminati para vegetarian karena bagus untuk kesehatan. “Selama ini masyarakat Indonesia hanya menjadi penyedia bahan mentah lalu diimpor ke Barat,” jelasnya.

Ibu Erna, salah satu warga, menyampaikan dukungannya atas adanya kegiatan ini, karena menurutnya, pembuatan VCO (Virgin Coconut Oil) merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan pengetahuan dan perekonomian masyarakat desa Bungin-bungin.

Setelah pengemasan VCO ini dilaksanakan, peserta KKN Posko XLV mengharapkan tidak hanya dijual di pasar global, tetapi juga untuk dikonsumsi sendiri, sehingga masyarakat tidak hanya mempercayai olahan-olahan minyak goreng yang tercampur bahan-bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan mereka, tetapi masyarakat menggunakan produknya sendiri yang tentunya lebih menyehatkan.

Penulis: Riskiyah (Mahasiswa Ekonomi Syariah Peserta KKN Posko XLV Desa Bungin-bungin)

Editor: Masykur Arif (LP2D)