BELAJAR METODE RISET DI AUSTRALIA, MAHMUDI; PENGALAMAN LUAR BIASA

Australia - INSTIKA - Tahun ini, Kementerian Agama RI Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam melaksanakan program unggulan, yakni Short Course Overseas Research Methodology di Monash University, Melbourne Australia. Melalui program ini, diharapkan kemampuan Dosen PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) dalam melakukan riset atau penelitian semakin bagus. Sehingga, dapat mendongkrak publikasi hasil penelitian di jurnal-jurnal bereputasi tingkat internasional.

Untuk bisa mengikuti program khusus dosen PTKI ini, terlebih dahulu harus menyetorkan proposal penelitian dalam bahasa Inggris. Proposal ini kemudian diseleksi dan yang lolos akan menjadi peserta Short Course.

Mahmudi, M.FIl.I, Dosen Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fak. Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep, yang ikut serta dalam seleksi ini, akhirnya lolos sebagai peserta. “Saya terpilih sebagai peserta melalui seleksi ACRP (Annual Conference on Research Proposal) 2019 dari Kemenag RI yang diadakan di Hotel Horison Tangerang,” terangnya.

 Peserta terpilih terdiri dari 10 orang dari berbagai PTKI se-Indonesia, yaitu: Mahmudi (INSTIKA Guluk-guluk Sumenep), Yaser Taufik Syamlan (STEI Tazkia Bogor), Umma Farida (IAIN Kudus), Mashuri Masri (UIN Alauddin Makassar), Miftahul Huda (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Nuril Hidayah (STAI Muhammadiyah Probolinggo), Ratih Rizqi Nirwana (UIN Walisongo Semarang), Siti Rodiah (UIN Raden Fatah Palembang), Nur Hidayah (IAI NU Kebumen), Anis Hidayatul Imtihanah (IAIN Ponorogo).

Menurut Mahmudi, program Short Course ini diadakan di Monash University Australia dengan durasi sekitar tiga minggu (4-22 November 2019). “Selama tiga minggu, saya dan peserta Short Course lainnya diajari Metode Penelitian, Penulisan Akademik, Cara Publikasi Internasional, dan penelitian Kolaborasi Internasional,” katanya.

Dijelaskannya secara lebih jauh bahwa pada minggu pertama peserta mendapatkan materi pengetahuan tentang teknik dasar metodologi penelitian. Bagian ini disampaikan Prof. Ariel Haryanto, Prof. Jullian Millie, Dr. Anita Dewi, Dr. Aydogan Kars dan Dr. Susanne Protschky.

Dalam membuat Proposal Penelitian dibatasi maksimal 1000 kata. Ini terdiri dari judul, rumusan masalah yang hendak dijawab, signifikansi penelitian, objek materi yang dikaji, hipotesis, dan referensi. “Penulisan seperti ini sudah lazim di Australia,” tambahnya.

Pada sesi pertama ini diakhiri dengan latihan presentasi proposal penelitian. Masing-masing peserta diberi waktu tiga menit untuk menyampaikan isi seluruh proposalnya. Selain penulisan yang singkat juga dilengkapi dengan penyampaian yang singkat. Meski demikian, desain riset harus tersampaikan dengan jelas, menarik, dan sistematis. “Penyampaian seperti ini, di Australia, dikenal dengan Three Minutes Presentation. Setiap kampus di Australia sering mengadakan lomba semacam ini,” jelas Mahmudi.

Sesi kedua pada minggu kedua, peserta Short Course diajari bagaimana meningkatkan kemampuan academic writing. Selain itu juga diajari bagaimana memilih jurnal yang tepat sesuai keahlian peneliti. Hal ini disampaikan Prof. Stacy Holman Jones, Prof. Alica Gaby, Dr. Steve Roberts, dan Dr. Barbara Barbosa Neves. Usai mengikuti materi, dengan didampingi mentor, seluruh peserta mendapat tugas Independent Writing.

Adapun minggu ketiga, yakni sesi terakhir, diisi dengan materi tentang publikasi ilmiah. Prof. Steve Zech, Prof. Edward Buckingham, Dr. Steve Roberts, Mel Johnston, dan Marie Segrave menjadi pemateri pada sesi ini. 

Dr. Mahrus El-Mawa, selaku Kasi bidang penelitian Kemenag RI, berpesan kepada seluruh dosen yang menjadi peserta Short Course Overseas Research Methodology di Monash University, Melbourne Australia ini agar menjadi duta keilmuan di bidang riset. Apa yang diperoleh diharapkan dapat diajarkan kembali kepada seluruh dosen yang lain di perguruan tinggi tempatnya mengabdi.

“Insya Allah saya akan melaksanakan anjuran dari Bapak Mahrus. Sebab, selama belajar di Australia, sungguh saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa di bidang riset dan pulikasi ilmiah. Tentu eman jika tidak dibagikan,” pungkas Mahmudi.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)