Rapat Pimpinan PTKIS Kopertais IV, INSTIKA Terus Tingkatkan Mutu Leadership

Surabaya - INSTIKA - Wakil rektor II Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep, Dr. K.H. Mohammad Hosnan, M.Pd., menghadiri rapat pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) dalam rangka peningkatan mutu leadership pimpinan PTKIS Kopertais Wilayah IV Surabaya, Rabu sampai Jumat (14-16/06/2023) di Hotel Harris Surabaya.

INSTIKA terlibat aktif dalam rapat-rapat pimpinan PTKIS Kopertais IV maupun PTKI tingkat nasional. "INSTIKA memang terus berupaya meningkatkan mutu leadership atau kelembagaan agar semakin terpercaya dan maju memenuhi kebutuhan masyarakat," ungkap Wakil Rektor II yang hadir dalam kesempatan itu.

Kegiatan itu mengusung tema, "Digitalisasi Layanan Berbasis Sistem Informasi Menejemen  Kopertais Wilayah (SIMKOPTA) V 2.0." Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Wakil Koordinator Kopertais Wilayah IV Surabaya, Dr. K.H. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., didampingi Sekretaris Kopertais, Dr. H. M. Hasan Ubaidillah, S.H., M.Si., dan Tim Ahli: Dr. Arif Mansuri dan Dr. Hj. Sri Wardiati.

Kegiatan itu dihadiri oleh Pimpinan Forpim PTKIS dan 186 Pimpinan Perguruan Tinggi se Kopertais Wilayah IV Surabaya.

Pada sesi pertama, Dr. Thobib Al-Asyhar, S.Ag., M.Si (Kasubdit Kelembagaan dan kerjasama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI) yang menjadi pembicara membahas tentang Peningkatan Mutu PTKI di era Industri 4.0.

Dalam pemaparannya, Dr. Thobib Al-Asyhar menyatakan, kebijakan moratorium pendirian PTKIS baru dimaksudkan untuk menjaga mutu dengan memberi kesempatan kepada PTKIS yang telah berizin, untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan.

Dalam catatannya, terdapat 134 permohonan baru yang ditangguhkan untuk sementara waktu, meskipun itu permohonan dari tokoh, kiai atau ulama berpengaruh.

Penjagaan mutu PTKIS yang sudah ada itu bertujuan untuk, (1) peningkatan status akreditasi prodi dan institusi, (2) standarisasi pelayanan proses belajar, (3) SPMI, (4) peningkatan peringkat jurnal dan hasil riset, (5) relevansi produk pendidikan (alumni) dengan kebutuhan masyarakat.

"Kita perlu mengembangkan prodi-prodi yang marketable dan dibutuhkan oleh masyarakat, namun penting juga mempertahankan prodi yang menjaga khazanah keilmuan ulama klasik," terangnya.

Di samping itu, Kasubdit Kelembagaan dan kerjasama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI itu menyatakan bahwa yang perlu dilakukan oleh pimpinan PTKIS adalah: (1). Akselerasi/percepatan perubahan bentuk kelembagaan. (2). Penambahan prodi yang marketable. (3). Inovasi untuk Akselerasi/Percepatan penilaian jabfung dosen. (4). Mengoptimalkan kinerja LPM . (5). Meningkatkan kerjasama dengan pihak luar negeri, pemda dan dunia industri. (6). Meningkatkan jumlah mahasiswa asing.

Ditegaskannya juga bahwa universitas di bawah naungan Kementerian Agama sangat disarankan untuk membuka prodi umum di bawah Kemendikbudristek dan tidak disarankan membuka prodi tadris. Hal ini sesuai dengan regulasi yang berlaku dan untuk memenuhi kebutuhan lapangan kerja yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)