Guluk-Guluk - INSTIKA - Pakar Filsafat dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag., mengajak mahasiswa untuk tidak putus asa atau tidak patah semangat dalam belajar. Menurutnya, dalam proses belajar pada awalnya memang terpaksa, kedua kalinya tersiksa, tetapi kemudian akan terbiasa.
Kata-kata inspiratif itu disampaikannya pada seminar nasional bertajuk "Meneguhkan Identitas Mahasiswa Santri Menuju Indonesia Emas 2045" di Aula Asysyarqawi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep, Ahad (15/10/2023).
Selain itu, dalam seminar nasional yang digelar oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) INSTIKA yang merupakan serangkaian acara Festival Cinta Buku (FCB) 2023 itu, Dr. Fahruddin Faiz juga mengingatkan bahwa dalam belajar memang akan mengalami benturan atau ujian. Tetapi dari berbagai benturan itu akan terbentuk karakter sebagai intelektual. "Terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk," jelas Dr. Fahruddin Faiz memberikan semangat kepada mahasiswa terutama yang merasa dirinya mengalami keterlambatan dalam memahami materi pelajaran.
Di awal pemaparannya, Dr. Fahruddin Faiz menyampaikan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa. Menurutnya, yang perlu mendapat perhatian adalah niat masuk perguruan tinggi. "Jangan hanya untuk mendapatkan ijazah, atau hanya menjadi ilmuwan, melainkan menjadi intelektual yang dapat memberikan manfaat bagi sesama," jelasnya.
Setelah itu, menurut dosen yang kata-kata bijaknya menyebar di media sosial itu, mahasiswa harus mengaktifkan seluruh alat yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan, seperti pancaindera, akal, naluri, nurani, intuisi, dan imajinasi. "Semua ini harus digunakan untuk mencapai kesempurnaan pengetahuan dan kemanusiaan," ujarnya.
Selain niat dan alat, Dr. Fahruddin Faiz juga mengingatkan mahasiswa sebagai pembelajar untuk memiliki 6 hal berikut: (1) menyempurnakan keahliannya (harus menjadi profesional), (2) punya karakter penyayang terhadap sesama, (3) menjaga kehormatan diri (muru'ah), (4) membuat karya yang bermanfaat bagi orang lain, (5) punya metode belajar yang baik, (6) mempunyai kecerdasan.
"Jika kalian sungguh-sungguh menjalankan niat, alat, dan karakter pembelajar itu, insyaallah kalian akan siap menghadapi Indonesia Emas 2045," terang Dr. Fahruddin Faiz.
Penulis: Masykur Arif (LP2D)