Kuatkan Moderasi Beragama, Tim Pengabdian UA Dampingi Model Pengajaran Tafsir Kontekstual

Sumenep, UA Media— Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Annuqayah Sumenep dan Sekolah Tinggi Agama Islam al-Mujtama’ Pamekasan, melaksanakan kegiatan Pendampingan Model Pengajaran Tafsir Kontekstual untuk Penguatan Moderasi Beragama di Pesantren yang bertempat di Program Takhassus Tafsir Pondok Pesantren Al-Majidiyyah, Pegantenan, Pamekasan.

Kegiatan yang dilaksanan sejak tanggal 05 Oktober s/d 27 Desember 2025 ini bertujuan memperkuat pemahaman moderasi beragama melalui pengembangan model pengajaran tafsir Al-Qur’an yang kontekstual, dialogis, dan responsif terhadap dinamika sosial keagamaan.

Pesantren sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang keagamaan santri. Namun, tantangan menguatnya kecenderungan pembacaan tekstual dan polarisasi wacana keagamaan menuntut adanya inovasi pedagogis dalam pengajaran tafsir.

Melalui kegiatan pendampingan ini, tim pengabdian berupaya mendorong integrasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran tafsir tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren. Fathurosyid, Ketua Tim Pengabdi dari Universitas Annuqayah, menyampaikan bahwa pendampingan ini diarahkan untuk memperkuat nalar moderasi beragama melalui pembelajaran tafsir yang kontekstual dan partisipatif.

“Pendampingan ini tidak dimaksudkan untuk mengganti tradisi keilmuan tafsir di pesantren, melainkan memperkaya metode pengajarannya agar santri mampu membaca Al-Qur’an secara mendalam, kontekstual, dan relevan dengan realitas sosial, tanpa kehilangan akar keilmuan pesantren,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan program Litapdimas, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan pengasuh pesantren, ustadz, dan santri sebagai subjek aktif.

Salah satu tahapan utama dalam pendampingan ini adalah pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang menjadi ruang dialog bersama untuk memetakan kondisi pembelajaran tafsir, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan kebutuhan penguatan moderasi beragama di lingkungan pesantren.

Dalam FGD, para peserta mendiskusikan praktik pengajaran tafsir yang selama ini berjalan, sekaligus mengeksplorasi pendekatan tafsir kontekstual dengan mempertimbangkan latar historis ayat, konteks sosial, serta relevansinya dengan persoalan kebangsaan, toleransi, dan kehidupan bermasyarakat. Diskusi berlangsung secara partisipatif dan reflektif, menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis untuk pengembangan metode pengajaran tafsir yang lebih inklusif dan moderat.

Sementara itu, menanggapi kegiatan FGD, Ust. Abd. Hamid, perwakilan PP. Al-Majidiyyah, menyambut baik pelaksanaan kegiatan pendampingan tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi pendampingan ini karena memberikan ruang dialog yang konstruktif antara teks Al-Qur’an dan konteks kehidupan santri. Kegiatan ini membantu kami memperkuat pengajaran tafsir yang menanamkan nilai moderasi, kebijaksanaan, dan sikap saling menghargai,” tuturnya.

Hasil FGD kemudian menjadi dasar dalam penyusunan dan implementasi model pendampingan pengajaran tafsir kontekstual pada tahap berikutnya. Diharapkan, kegiatan ini dapat berkontribusi dalam memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang menanamkan nilai-nilai wasathiyah serta menjadi rujukan praktik baik penguatan moderasi beragama berbasis pengajaran tafsir Al-Qur’an.