Pamekasan, UA Media– KKN Universitas Annuqayah di desa Dempo Barat membantu 3 UMKM dengan sentuhan digitalisasi melalui pembuatan alamat google maps lokasi UMKM tersebut. Tiga UMKM tersebut diantaranya Kripik Singkong milik H. Sanin di dusun Kembang Dempo Barat, Rengginang dan pattolah milik ibu Sulastri, Dusun Kolla, Anyaman Tikar Tembakau milik Ibu Nisa dusun Karang Tengah.

Sebagaimana diketahui, “Pengolahan Kripik Singkong H. Sanin” tak pernah sepi dari pembeli. Di balik kesuksesan camilan renyah ini, ada kisah inspiratif tentang perjuangan, kualitas, dan kini, sentuhan modernisasi dari para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).
H. Sanin, sang pemilik, bukanlah sosok yang asing bagi warga sekitar. Dengan tekad kuat, ia membangun usahanya dari nol pada usia 25 tahun setelah memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan di Manding. Kini, usaha kripik singkong tersebut menjadi sumber penghasilan utamanya yang mampu menghidupi keluarganya dan bahkan membuka lapangan kerja bagi lingkungan sekitar.
“Usaha ini saya mulai dari bawah sekali. Alhamdulillah sekarang bisa jadi andalan,” ujar H. Sanin di sela-sela kesibukannya.
Popularitas kripik singkong H. Sanin tidak hanya terbatas di lingkungan lokal. Produknya telah berhasil menembus pasar yang lebih luas, menjangkau daerah Waru, Pamekasan, hingga ke Sidoarjo. Banyak pembeli, baik dari masyarakat sekitar maupun dari luar kota, yang datang langsung ke lokasi produksi untuk membeli produknya.
“Ada yang beli bungkusan, ada juga yang beli bahan mentahnya saja, bisa sampai satu karung, dua karung, bahkan lebih,” tambahnya.
Rahasia Kualitas dan Proses Alami
Salah satu kunci sukses kripik H. Sanin adalah komitmennya pada kualitas dan proses produksi yang alami. Ia menggunakan singkong yang dibeli langsung dari para petani lokal, sebuah langkah yang turut membantu menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
Meski demikian, ia sangat selektif dalam memilih bahan baku. “Singkong yang dibeli dari masyarakat juga harus dipilih kualitasnya, bukan sembarang singkong,” tegasnya.
Proses pembuatannya pun terbilang sederhana dan bebas dari bahan pengawet. Singkong yang telah dipilih kemudian dikupas secara manual, diserut tipis, lalu direndam dalam air selama 3 hingga 5 hari untuk mendapatkan tekstur yang renyah. Bumbunya pun hanya mengandalkan bahan-bahan alami seperti bawang putih, garam, dan sedikit penyedap rasa.
Mahasiswa KKN Membawa Semangat Digitalisasi
Di tengah kesuksesan yang diraih secara tradisional, sekelompok mahasiswa KKN Universitas Annuqayah datang membawa gagasan baru: digitalisasi marketing. Melihat potensi besar dari produk kripik H. Sanin, para mahasiswa memberikan pemahaman dan pendampingan mengenai pentingnya pemasaran di era digital.
“Di zaman sekarang, semuanya serba digital. Kami ingin membantu usaha seperti milik Bapak H. Sanin agar bisa lebih dikenal luas lagi melalui media sosial dan marketplace,” ungkap salah satu mahasiswa KKN Universitas Annuqayah.
Dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp8.000 per bungkus dan harga khusus per kilogram untuk pesanan dalam jumlah besar, kripik H. Sanin memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh. Kolaborasi antara kearifan lokal dan semangat inovasi digital ini diharapkan dapat membuka pintu pasar yang lebih lebar, sehingga kelezatan kripik singkong tradisional ini dapat dinikmati oleh lebih banyak orang di seluruh Indonesia.
Lokasi Usaha tersebut telah dicantumkan di gogle Maps dengan tujuan agar masyarakat di luar desa tersebut bisa dengan mudah mengetahui keberadaan UMKM desa Dempo Barat yang belum tercantum di gogle Maps. Di samping itu, program ini bertujuan untuk memperkenalkan produk-produk UMKM desa Dempo Barat yang belum terjangkau oleh masyarakat di luar desa sehingga bisa memenuhi keinginan para pengusaha desa Dempo Barat untuk memperluas usahanya hingga ke berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai manca negara.